Protecting the Asei Forest: Preserving Trees and Tradition
Traditional bark carving artisans from the Indigenous communities in Jayapura, Papua, are growing increasingly worried. The reason is that the khombouw tree—long used as the main material for traditional bark carvings—is now on the brink of extinction.
The scarcity of khombouw trees has become a serious concern for Mama Martha, one of the bark carving artisans from Asei Besar Village. She said she now struggles to find khombouw bark for her carvings, as the trees have become rare in her surroundings. Yet, demand for bark carvings continues to rise, forcing her to source materials from other regions.
Cultural expert Bhuyaka Corry Ohee explained that bark carving is a distinctive art form of the Indigenous people living around Sentani. These carvings are made exclusively from the bark of the khombouw tree, whose flexible and strong bark serves as an ideal medium for Asei’s traditional art. The motifs of Asei’s bark carvings are recognized internationally as part of Papua’s cultural identity. However, khombouw trees have become increasingly rare and are now threatened with extinction.
This condition is largely caused by rampant land conversion and the lack of natural regeneration. Corry Ohee said he has encouraged residents to replant khombouw trees around the village and along the shores of Lake Sentani. However, cultivating the khombouw tree is not easy—it can only grow well in its native habitat. When cultivated elsewhere, the tree often produces bark of poor quality.
“We’ve tried cultivating it before, but the trees didn’t grow well and their bark was full of holes,” said Corry Ohee on July 24, 2025. At that time, Corry entered the customary forest and showed Tempowitness the khombouw trees firsthand.
Therefore, Corry emphasized that preserving the forest is key to protecting the khombouw tree. “If we don’t take care of it, our children and grandchildren will no longer know about bark carvings. That’s why we replant this tree—to keep our tradition alive,” he said.
Today, the Indigenous community of Asei Island, located in East Sentani District, Jayapura Regency, Papua, is making efforts to conserve the khombouw tree. They plant and protect the trees within their customary forest, including in Asei Besar Village.
In addition to planting new trees, the community also regulates bark harvesting to prevent overexploitation. Bark is only taken from trees that are mature—those older than five years—since their diameter and flexibility are ideal. After harvesting, the remaining bark is left to regrow naturally. “Usually at around five years old, when the trunk is about as thick as an adult’s arm or thigh, the bark is good enough to be taken,” said Corry Ohee.
The process of making khombouw bark carvings is unique and involves several stages. First, the outer and inner bark layers are separated. The inner bark is then pounded with stones until the crossed fibers loosen and expand. The resulting material is used to create various art pieces, including wall decorations, traditional Sentani attire, bags, and wallets.
The Jayapura Regency Government, together with several customary institutions and environmental organizations, supports efforts to preserve both the khombouw tree and the bark carving tradition. They encourage the younger generation on Asei Island to care for their environment and cultural heritage.
The conservation of the khombouw tree stands as a tangible example of how Asei’s Indigenous wisdom maintains harmony between culture and nature. This initiative also serves as an inspiration for other regions in Papua to protect their natural resources that are closely tied to their cultural identity.
Menjaga Hutan Adat Asei: Merawat Pohon dan Tradisi
Para pengrajin ukiran kulit kayu tradisional masyarakat adat di Jayapura, Papua, kini sedang was-was. Penyebabnya, pohon khombouw yang selama ini menjadi bahan utama ukiran kulit kayu tersebut terancam punah.
Semakin langkanya pohon khombouw dikeluhkan oleh Mama Martha, salah satu pengrajin ukiran kulit kayu di kampung Asei Besar. Mama Martha mengatakan dia sekarang kesulitan mendapatkan kulit kayu khombouw sebagai bahan baku ukirannya. Pohon tersebut sudah susah ditemukan di sekitar lingkungan dia. Padahal permintaan akan ukiran kulit kayu terus meningkat. Sehingga dia terpaksa mendatangkannya dari wilayah lain.
Budayawan Bhuyaka Corry Ohee mengatakan bahwa ukiran kulit kayu adalah ukiran khas masyarakat adat di sekitar Sentani. Ukiran tersebut hanya dibuat dari kulit kayu pohon khombouw. Pohon Khombouw memiliki kulit kayu yang lentur dan kuat sehingga dapat diolah menjadi medium seni ukir khas masyarakat Asei. Motif-motif ukiran kulit kayu dari Asei dikenal hingga mancanegara sebagai bagian dari identitas budaya Papua. Namun saat ini pohon khombouw sudah langka dan terancam punah.
Kondisi tersebut disebabkan oleh maraknya alih fungsi lahan dan minimnya regenerasi tanaman secara alami. Corry Ohee mengatakan dia telah mengajak warga untuk menanam kembali pohon khombouw di sekitar kampung dan pesisir Danau Sentani. Namun, budidaya pohon khombouw tidak mudah. Pohon ini hanya bisa tumbuh subur di habitat aslinya. Jika dibudidayakan secara mandiri di luar habitat aslinya akan menghasilkan kualitas kulit pohon yang kurang bagus.
“Kami pernah melakukan budidaya, tetapi pohonnya kurang bagus akan belubang-lubang,“ ungkap Corry Ohee pada 24 Juli 2025. Saat itu Corry masuk ke hutan adat dan menunjukkan secara langsung jenis pohon khombouw pada Tempowitness.
Oleh karena itu, lanjut Corry, menjaga kelestarian hutan menjadi kunci utama menjaga keberadaan pohon khombouw. “Kalau tidak kita jaga, anak cucu tidak akan lagi mengenal ukiran kulit kayu. Karena itu, kami tanam kembali pohon ini agar tradisi tidak hilang,” ujarnya.
Saat ini masyarakat adat di Pulau Asei, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, berupaya melestarikan pohon khombouw. Pohon tersebut mereka tanam dan jaga di hutan adat mereka. Salah satunya adalah hutan adat Kampung Asei Besar.
Selain merawat pohon baru, masyarakat adat juga mengatur pemanfaatan kulit kayu agar tidak dilakukan secara berlebihan. Kulit kayu diambil hanya dari pohon yang sudah cukup umur, yakni yang usia tumbuhnya di atas 5 tahun karena cukup ideal diameter kulit dan kelenturannya, sehingga jika kemudian bagian yang diambil dibiarkan pulih kembali. “Rata-rata di usia 5 tahun, batang pohon sudah sebesar tangan atau paha orang dewasa itu yang bagus kulitnya untuk diambil,“ ungkap Corry Ohee.
Pembuatan ukiran kulit kayu khombouw dikerjakan dengan cara yang unik dan melalui beberapa tahap. Pertama, kulit kayu dipisahkan antara kulit bagian luar dan dalam dan selanjutnya ditumbuk dengan batu hingga serat kulit yang bersilangan dapat terurai dan melebar. Selanjutnya, kulit tersebut akan dijadikan bahan berbagai karya seni seperti ukiran hiasan dinding, pakaian adat Sentani, tas, dan dompet.
Pemerintah daerah Kabupaten Jayapura bersama sejumlah lembaga adat dan pemerhati lingkungan ikut mendukung upaya pelestarian pohon khombouw sekaligus seni ukir kulit kayu di Jayapura. Mereka mendorong generasi muda di Pulau Asei merawat lingkungan dan budaya mereka.
Pelestarian pohon Khombouw menjadi bukti nyata bagaimana kearifan lokal masyarakat Asei menjaga keseimbangan antara budaya dan alam. Upaya ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Papua untuk melestarikan sumber daya alam yang terkait dengan identitas budaya setempat.









