Masyarakat Adat Enggros Budidaya Ikan Nila di Teluk Youtefa
Masyarakat Adat Enggros membudidayakan ikan nila di kawasan teluk Youtefa di Jayapura, Papua. Perubahan iklim yang semakin terasa kini memunculkan fenomena unik di Teluk Youtefa, Kota Jayapura.
Masyarakat adat Enggros, yang selama ini dikenal sebagai penjaga hutan mangrove dan laut di kawasan tersebut, mulai membudidayakan ikan nila—jenis ikan air tawar—di perairan laut Teluk Youtefa. Fenomena ini berawal dari kondisi lingkungan yang berubah akibat naiknya suhu, meningkatnya kadar garam, serta berkurangnya hasil tangkapan ikan laut yang biasa menjadi sumber pangan utama masyarakat adat.
Demi menjaga ketahanan pangan keluarga, masyarakat adat Enggros pun melakukan inovasi dengan mencoba memelihara ikan nila di keramba yang ditempatkan langsung di laut. Menurut cerita Petronela Meraudje, aktivis perempuan dari Perempuan AMAN Jayapura, ikan nila yang biasanya hidup di air tawar ternyata mampu bertahan hidup bahkan tumbuh di lingkungan air payau hingga asin.
Hasil uji coba yang dilakukan beberapa bulan terakhir menunjukkan pertumbuhan ikan nila cukup baik, bahkan dianggap bisa menjadi alternatif penghasilan baru bagi Masyarakat adat di kampung Enggros Distrik Abepura Kota Jayapura. “Kami kaget juga, ternyata ikan nila bisa hidup di laut. Dulu kami hanya tahu nila ada di danau atau kolam. Tapi karena perubahan iklim, ikan-ikan di laut makin susah didapat, jadi masyarakat mencoba cara baru ini ternyata berhasil,” ungkap ungkap Petronela Meraudje.
Tokoh perempuan dari teluk Imby Numbay yang dikenal mendorong hutan perempuan di Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) teluk Youtefa Hamadi itu mengatakan bahwa fenomena tersebut merupakan salah satu contoh adaptasi masyarakat adat terhadap perubahan iklim. Masyarakat adat Enggros memanfaatkan pengetahuan lingkungan yang mereka miliki untuk mencari solusi di tengah tantangan ekologi. “Akibat banjir dari kota Jayapura Abepura dan Entrop ini, sungai-sungai mengalir ke teluk Yotefa, sehingga perubahan air di teluk ini semakin besar, di engross ini keramba Masyarakat piara ikan nila ikan bandeng. Dulu tidak bisa di budidaya, pasti mati,“ ungkap Petronela Meraudje.
Pemerhati lingkungan menilai, langkah ini penting sebagai bentuk adaptasi berbasis komunitas. Jika berhasil dikembangkan, budidaya nila di laut bisa menjadi model inovasi pangan bagi masyarakat pesisir lainnya yang terdampak perubahan iklim. Seppy Hanasbey tokoh masyarakat adat kampung Enggros membenarkan jika sebagian besar masyarakat adat Enggros kini membudidayakan ikan nila sebagai sebagai sumber penghasilan mereka, karena perubahan siklus air asin dan air payau di Kawasan teluk Youtefa sangat luas. “Sekarang sudah banyak yang piara ikan nila dan bagus juga untuk keberlanjutan ekonomi. Saya juga sempat kaget,“ imbuhnya.
Ikan nila salin atau yang sering disebut juga dengan ikan nila air asin, merupakan salah satu jenis ikan unggulan yang mampu hidup dalam air dengan kadar garam yang tinggi. Ikan ini memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa, memungkinkannya untuk hidup di lingkungan dengan perbedaan salinitas yang ekstrem. Ikan nila salin memiliki ciri-ciri tubuh yang mirip dengan ikan nila pada umumnya, namun memiliki adaptasi khusus untuk hidup di air dengan kadar garam yang tinggi.
Ikan ini memiliki sisik yang lebih tebal dan kuat, serta sisiknya berfungsi sebagai pelindung tubuh dari kehilangan air dan serangan organisme patogen. Teluk Youtefa sendiri merupakan kawasan konservasi dengan ekosistem mangrove yang luas. Upaya masyarakat adat Enggros menjaga laut sekaligus berinovasi dalam budidaya ikan nila menjadi bukti bahwa masyarakat adat berada di garda terdepan dalam menghadapi dampak perubahan iklim.









