Aksi Solidaritas Perempuan Papua Bangkit

Tampak suasana aksi damai yang dilakukan para perempuan Papua di kawasan lingkar Abepura-Jayapura, Papua pada Kamis, 30 April 2026. Para perempuan Papua tersebut melakukan aksi menolak keberadaan Proyek Strategis Nasional atau PSN dan militerisme di Papua.

Massa aksi yang berasal dari Solidaritas Perempuan Papua Bangkit itu menggelar aksi demonstrasi dan berorasi secara bergantian.

Menurut mereka, masuknya korporasi besar ke Papua tidak terbukti berhasil mensejahterakan orang asli Papua. Yang kerap terjadi justru warga Papua, terutama perempuan Papua, semakin terpinggir. Perempuan Papua juga rentan menjadi korban dari operasi militer dan konflik bersenjata.

Salah satu peserta aksi, Novita Opki, dalam orasinya mengatakan bahwa selama ini perempuan Papua kerap menjadi korban. “Para perempuan Papua melahirkan generasi Papua bukan untuk diperkosa, disiksa dan dibunuh,” ujarnya.

Agustina Magay, peserta aksi lainnya menambahkan bahwa para perempuan Papua menuntut keadilan. Mereka menuntut negara harus hadir untuk menyelesaikan semua pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat yang terjadi di Papua. Pelanggaran HAM harus ditindak, siapapun pelakunya, termasuk jika dilakukan anggota Polri maupun TNI. “Pelanggaran HAM perempuan Papua mulai dari 1980-a hingga kini 2026 di Kabupaten Dogiyai dan Kabupaten Puncak Jaya,” ujarnya.

Share this Post: