Kamundu Artisans Preserve Merauke’s Noken
A group of women from Kuda Mati, Kamundu Village, Merauke District, South Papua, have become skilled knitting artisans. They create various knitted products, one of which is the traditional noken.
Adriana, one of the artisans, shared her story during a women's issue writing workshop at the PBHK Convent Hall on Thursday, March 27, 2025. She mentioned that she has been working as a knitting artisan since 2007. In February 2021, they formed a knitting MSME (Micro, Small, and Medium Enterprises) group. However, they currently produce knitted items only based on orders, making their income unpredictable.
The knitting group currently consists of eight members. According to Adriana, they established the group because they share the same creative passion.
They craft various types of noken, which can be adorned with different knitted patterns or even text-based designs.
Adriana explained that making noken is not difficult once the basic knitting techniques are mastered. The production time for a knitted noken varies from three days to a week, depending on its size. For patterned noken, the process takes longer—anywhere from one week to a month—depending on the size and complexity of the design.
Their handcrafted noken are sold at various prices. A medium-sized noken is priced at IDR 200,000, while a large patterned one costs IDR 300,000.
In addition to noken, the artisans also produce knitted wallets and small bags. Their handcrafted wallets sell for IDR 150,000, while the small knitted bags are priced at IDR 200,000.
Adriana hopes that the Merauke District Government will support their group in developing this traditional knitting business.
Pengrajin Kamundu Melestarikan Noken Merauke
Sejumlah perempuan dari Kampung Kuda Mati, Kelurahan Kamundu, Distrik Merauke, Kabupaten Merauke, Papua Selatan menjadi pengrajin rajutan. Mereka membuat berbagai rajutan, salah satu produksi mereka adalah noken.
Adriana, salah satu pengrajut, saat ditemui di sela-sela pelatihan menulis isu perempuan di Aula Susteran PBHK pada Kamis 27 Maret 2025 mengatakan bahwa dia sudah bekerja sebagai pengrajut sejak 2007. Selanjutnya pada Februari 2021 mereka membuat kelompok UMKM perajut. Namun saat ini mereka hanya membuat rajutan sesuai dengan pesanan saja. Sehingga pendapatan mereka tidak menentu.
Saat ini kelompok rajut tersebut memiliki delapan orang anggota. Menurut Adriana mereka membentuk kelompok rajutan karena mereka punya kreativitas yang sama.
Mereka membuat berbagai jenis noken. Noken buatan mereka juga bisa dilengkapi dengan rajutan berbagai motif serta dilengkapi dengan rajutan berbentuk tulisan di sana.
Menurut Adriana, membuat noken tidak sulit kalau sudah menguasai dasar-dasar teknik merajut. Sedangkan pembuatan rajutan noken membutuhkan waktu tiga hari hingga satu pekan tergantung pada ukuran. Sedangkan untuk membuat noken yang bermotif, butuh waktu lebih lama, satu pekan hingga satu bulan tergantung pada ukuran dan kerumitan motif.
Noken buatan mereka dijual dengan harga yang beragam. Noken ukuran sedang dijual dengan harga Rp 200 ribu. Noken ukuran besar yang bermotif harganya Rp 300 ribu.
Selain membuat noken, para pengrajin tersebut juga membuat dompet dan tas kecil. Dompet rajutan mereka jual Rp 150 ribu. Sedangkan tas rajutan dijual Rp 200 ribu.
Adriana berharap pemerintah Kabupaten Merauke membantu kelompok mereka dalam mengembangkan usaha rajutan tradisional tersebut.