Diskusi Film Pesta Babi, Refleksi Perjuangan Masyarakat Papua

Kegiatan nonton bareng dan diskusi film “Pesta Babi” berlangsung di Wisata Rumah Etnik, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat Daya pada 20 Maret 2026. Diskusi tersebut menjadi ruang refleksi bagi pemuda, mahasiswa, aktivis, dan masyarakat adat dalam memahami realitas kehidupan Orang Asli Papua di tengah arus pembangunan. 

Kegiatan tersebut menghadirkan pemantik diskusi yang memberikan pandangan kritis terhadap isi film dan kondisi nyata yang terjadi di masyarakat. 

Pemantik pertama, Alfon dari LBH Pos Sorong, menyampaikan bahwa film “Pesta Babi” menggambarkan realitas kehidupan masyarakat pribumi yang kerap menjadi korban di atas tanahnya sendiri. Ia menegaskan bahwa identitas masyarakat adat Papua sangat erat kaitannya dengan alam, khususnya hutan dan laut. “Selama hutan dan laut masih ada, maka di situ jati diri masyarakat adat tetap hidup,” ungkapnya. 

Pemantik kedua, Yunita Ulim, menyoroti pengalaman masyarakat di wilayah Klamono sekitar tahun 2020 saat masuknya perkebunan kelapa sawit. Ia menjelaskan bahwa kehadiran perusahaan tersebut memunculkan perbedaan sikap di tengah masyarakat, di mana sebagian menerima dan sebagian lainnya menolak. Ia juga menekankan pentingnya menjaga makanan tradisional serta mempertahankan hutan dan tanah adat sebagai sumber kehidupan masyarakat. 

“Tanah sudah menyediakan semua kebutuhan hidup kita. Karena itu, kita harus menjaganya,” tegasnya. 

Sementara itu, Esau Klagilit sebagai peserta nobar menyampaikan bahwa film “Pesta Babi” sangat relevan dengan kondisi yang dialami oleh Orang Asli Papua, baik di Sorong maupun di wilayah lainnya. Menurutnya, apa yang ditampilkan dalam film tersebut bukan sekadar cerita, melainkan gambaran nyata yang telah dan sedang terjadi. Ia menilai bahwa hingga saat ini praktik kolonialisme modern masih dirasakan oleh masyarakat adat, di mana kebijakan negara seringkali digunakan untuk mengontrol kehidupan masyarakat adat. 

Dampaknya adalah eksploitasi sumber daya alam, perusakan hutan, serta semakin tersingkirnya masyarakat adat dari tanah mereka sendiri. “Semua yang kita nonton dalam film itu sudah terjadi dalam kehidupan kami sebagai Orang Asli Papua,” ujarnya. 

Melalui kegiatan ini, masyarakat adat, pemuda, aktivis, dan mahasiswa menegaskan pentingnya membangun kesadaran kolektif serta memperkuat solidaritas dalam menjaga tanah, hutan, dan identitas budaya Papua. Selain itu, mereka juga menyatakan sikap kritis terhadap berbagai rencana pembangunan yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat adat. 

Kegiatan nobar dan diskusi ini diharapkan menjadi ruang edukasi dan konsolidasi untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat adat di tanah Papua.

Share this Post: