Perempuan Adat, Rumput Tikar, dan Pelestarian Hutan Adat
Tampak perempuan adat dari Suku Yei di Kabupaten Merauke, Papua Selatan sedang menganyam rumput tikar pada Rabu, 4 Maret 2026. Para perempuan adat Suku Yei masih mempertahankan kerajinan anyaman rumput tersebut hingga kini.
Sejumlah perempuan adat Suku Yei yang masih aktif menganyam rumput tikar antara lain Yeinan Blandin Kakayu dan Mama Alowisia Kwerkujei.
Rumput tikar mereka peroleh dari hutan adat Suku Yei. Rumput tersebut lantas dijemur selama dua hari hingga kering. Setelah itu, rumput diproses dan dianyam secara tradisional. Hasil anyaman Wipp digunakan untuk membuat tas tradisional (Cayo), bagian atas noken, serta tikar.
Aktivitas ini bukan hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga bentuk nyata mempertahankan identitas budaya serta menjaga kelestarian hutan adat dari ancaman kerusakan.
Bagi perempuan Yei, hutan bukan sekadar ruang hidup, melainkan sumber kehidupan yang diwariskan turun-temurun dan harus dijaga untuk generasi mendatang.











