Bahagaru, Ritual Pengobatan di Masyarakat Adat Salangai

Balai Adat Salang’ai di Desa Haratai, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan tampak hening pada Sabtu malam, 14 Februari 2026 pukul 08.10 Wita. Sejumlah orang tampak duduk diam, mengheningkan cipta.

Di salah satu pinggir ruangan, salah satu warga Haratai terbaring beralas tikar dan berselimut sarung. Di tengah ruangan tergantung besangkar yang terbuat dari buluh kuning, dihiasi daun janur atau gula aren, sebagai simbol penghubung antara manusia dan alam spiritual.

Berbagai perlengkapan sesaji dan gandang disiapkan. Seperti lekatan, kelapa, ayam kampung panggang, lambuk atau pais pisang, daun sirih, serta anak nasi. 

Malam itu masyarakat adat Salang’ai sedang menggelar ritual Bahagaru, ritual untuk memohon kesembuhan terhadap salah satu warga yang sedang sakit. Ritual dipimpin oleh penghulu Adat Aalang'ai, saudara Bapak Darani.

Bersama-sama, mereka mulai memanjatkan doa diiringi lantunan suara be mamang dan suara gendang petuah (petati) yang dipenjatkan sepanjang prosesi. Ritual Beharagu ini yang berlangsung selama sekitar enam jam itu selesai saat hari sudah berganti.

Ritual Bahagaru adalah ritual pengobatan yang diwariskan secara turun-temurun di masyarakat ada Salang’ai. Ritual ini sekaligus simbol harmonisasi hubungan spiritual antara manusia, leluhur, dan pencipta alam semesta.

Ritual ini dianggap sakral dan menjadi bagian dari identitas budaya serta kearifan lokal yang terus dijaga dan dilestarikan oleh warga setempat hingga saat ini.



Share this Post: