Pelatihan Jurnalisme Lingkungan Universitas Sriwijaya
Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Palembang menyelenggarakan Pelatihan Jurnalisme Lingkungan dengan tema “Menulis Energi Bersih: Jurnalisme Lingkungan untuk Panas Bumi” pada Kamis, 27 November 2025 di Ruang Seminar Jurusan Sosek. Kegiatan ini diikuti oleh 30 mahasiswa, para pegiat lingkungan, serta 4 dosen Jurusan Sosek yang turut membersamai proses pelatihan dari awal hingga akhir.
Acara dibuka oleh Dr. Ir. Yulian Junaidi, M.Si., Kepala Laboratorium Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa kemampuan menulis adalah fondasi penting bagi mahasiswa, tidak hanya untuk menyelesaikan tugas akhir, tetapi juga sebagai keterampilan yang membentuk daya pikir kritis, logika, dan kepekaan terhadap isu sosial-ekologis.
Yulian Junaidi juga menegaskan bahwa sejarah peradaban manusia dibangun melalui aktivitas menulis — mulai dari prasasti, naskah kuno, hingga laporan ilmiah modern. Menurutnya, “Ketika mahasiswa mampu menulis, mereka sesungguhnya sedang ikut merawat ingatan kolektif dan mewariskan pengetahuan. Jurnalisme lingkungan adalah salah satu bentuk kontribusi paling nyata untuk menjaga bumi sekaligus meneguhkan peran ilmuwan sosial pertanian dalam perubahan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa di era krisis iklim dan transformasi energi saat ini, mahasiswa perlu memahami narasi energi bersih, termasuk potensi besar panas bumi di Indonesia. Melalui pelatihan ini, mahasiswa diharapkan bukan hanya pandai menulis, tetapi juga mampu memproduksi tulisan yang kritis, berbasis data, dan berperspektif keberlanjutan.
Pelatihan menghadirkan Ahmad Supardi, jurnalis profesional dan pegiat lingkungan, sebagai pemateri utama. Dalam penyampaiannya, Supardi mengulas berbagai teknik dasar dan lanjutan terkait penulisan energi bersih, cara membingkai isu panas bumi sebagai energi masa depan, hingga memahami angle khas jurnalisme lingkungan.
Ia juga memberikan contoh bagaimana membangun struktur tulisan yang kuat, memilih sudut pandang yang tepat, serta menyajikan data ilmiah dalam bahasa yang mudah dipahami publik. Selain teori, peserta juga diajak berdiskusi mengenai tantangan pemberitaan energi bersih di Indonesia, bias media, serta pentingnya jurnalisme independen untuk mengawal isu ekologis. Supardi menutup sesinya dengan latihan langsung: peserta diminta membuat paragraf pendek bertema energi bersih berdasarkan wawasan yang baru mereka dapatkan.

