Masyarakat Adat Balassuka Hadapi Perubahan Iklim
Komunitas Masyarakat Adat Balassuka merupakan komunitas yang terletak di bagian paling timur dari Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Tepatnya di wilayah administrasi Desa Balassuka, Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa. Wilayah adat ini dihuni oleh sekitar 2.678 penduduk dengan 653 keluarga.
Ruang hidup masyarakat adat balassuka secara umum mempunyai ciri khas geologis berupa daerah daratan yang berbukit. Sebagian besar wilayahnya adalah hamparan kebun pertanian dan persawahan yang mengelola sumberdaya alam secara tradisional. Mereka bahu membahu untuk menjaga kelangsungan hidup. Kehidupan warga di sana sangat tergantung pada alam.
Warga bercocok tanam, berburu dan meramu yang diperoleh secara turun temurun sebagai titipan dari leluhur. Pemukiman masyarakat adat Balassuka tersebar di dataran tinggi 600-1000 meter di atas permukaan laut. Kehidupan sehari-hari masyarakat adat Balassuka selalu dekat dengan alam luas. Anak-anak bermain di pekarangan rumah dan di pematang sawah, sementara nampak masyarakat adat Balassuka menjalani aktifitas harian mereka di kebun dan sawah yang membentang di sepanjang kaki gunung hutan adat.
Halaman rumah masyarakat adat digunakan untuk menjemur hasil panen, menumpuk kayu bakar dan pekarangan maupun kolong rumah masyarakat adat difungsikan sebagai tempat ternak ternak seperti ayam, sapi dan bebek. Di beberapa rumah, pekarangan juga ditanami sayuran dan tanaman obat untuk kebutuhan sehari-hari.
Lingkungan kehidupan masyarakat adat Balassuka dahulu mengandalkan pinggiran sungai dan selokan untuk mandi, mencuci dan buang air. Namun, kini mayoritas masyarakat adat telah memiliki toilet sendiri di dalam rumah dan ada juga yang membangun WC ini kolong ataupun pekarangan rumah mereka. Perubahan ini membantu mengurangi risiko penyakit berbasis air dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Meski begitu, infrastruktur jalan di komunitas ini sebagian besar masih berupa tanah dan bebatuan. Sehingga saat musim hujan, jalanan menjadi licin dan berlumpur, sementara di musim kemarau menyebabkan debu beterbangan. Hal itu juga menyebabkan masyarakat adat kesulitan mendapatkan akses kesehatan karena rumah sakit terdekat berada di pusat Kabupaten Gowa yang berjarak sekitar 100 kilometer dari kampung.
Sekitar sekitar 40 persen rumah masyarakat adat Balassuka merupakan bangunan semi permanen dan sisanya masih berbentuk rumah panggung yang memiliki bahan utama kayu dan bambu. Keindahan alam masih terjaga dengan hamparan pegunungan dan persawahan yang menambah keindahan di wilayah adat Balassuka yang memiliki suhu rata-rata 16–23 derajat celcius serta udara sejuk di pagi hari.
Perubahan pola iklim berdampak di wilayah Komunitas Masyarakat Adat Balassuka. Saat musim penghujan, kerap kali banjir melanda. Seperti banjir besar yang melanda pada Februari 2024 yang disebabkan oleh curah hujan ekstrem menjadi salah satu yang terparah di sana. Akibatnya sebagian sawah warga rusak. Selain itu, longsor besar juga menghantam di beberapa titik menyebabkan sawah, kebun dan bahkan beberapa rumah masyarakat adat rusak. Longsor juga menyebabkan jalan rusak dan tertimbun. Sebaliknya, saat musim kemarau warga kesulitan memperoleh air bersih. Sumur-sumur warga mengering, sungai-sungai surut drastis.
Jumri, salah satu warga, saat dijumpai di kediamannya pada Jumat, 1 Agustus lalu menegaskan pentingnya masyarakat adat menjaga dan merawat hutan adat sebagai sumber penghidupan. “Ompo (Hutan adat) ini pelindung utama dan sumber penghidupan kami dan jika rusak, kami yang akan paling terdampak,” ujarnya.
Sebagai bentuk adaptasi, masyarakat adat membangun tanggul, memperbaiki saluran air dan merawat mata air secara bergotong-royong. Namun, upaya ini dinilai belum cukup menghadapi ancaman perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Dukungan pemerintah dan pihak terkait sangat dibutuhkan, baik dalam memperkuat pengelolaan hutan adat maupun menyediakan infrastruktur air bersih yang memadai.
Menurut Muswahyuddin, anggota masyarakat adat Balassuka lainnya, masyarakat telah melakukan berbagai upaya adaptasi, seperti membangun bak penampungan air, gotong royong memperbaiki saluran dan menjaga hutan adat. Namun, mereka membutuhkan dukungan dari pemerintah dan lembaga terkait untuk menghadapi tantangan banjir, longsor dan kekeringan yang kian sering terjadi. “Kami terus menjaga wilayah adat kami terutama menjaga hutan dan sumber air untuk diwariskan ke generasi selanjutnya,” ujarnya.
Muswahyuddin menegaskan bahwa hutan adat adalah modal utama menghadapi perubahan iklim. Di dalam hutan adat (Ompo) masyarakat adat mendapatkan kayu bakar, bambu, rotan, madu, umbi-umbian, dan tanaman obat seperti raung tobo-tobo untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Hutan juga menjadi satu-satunya yang bisa menjaga keberadaan sumber air. “Hutan adat itu bukan hanya pohon, tapi sumber hidup. Air yang kami pakai untuk minum, masak dan sumber air untuk sawah semua tergantung di hutan adat,” ujarnya.
Keberlangsungan hidup masyarakat adat balassuka sampai saat ini dan seterusnya sangat bergantung pada kelestarian hutan adat. Generasi muda dan orangtua adat Balassuka harus berusaha mempertahankan tradisi dan kebiasaan masyarakat adat Balassuka karena menjaga hutan berarti menjaga masa depan yang akan diwariskan ke generasi berikutnya.










